Menakar Ulang Moralitas Politik: Menghidupkan Kembali Gagasan 'Gerpolek' Tan Malaka
|
SOLOK — Di tengah dinamisnya panggung politik kontemporer, publik sering kali disuguhkan dengan tontonan perebutan pengaruh dan penguatan eksistensi kelompok. Dalam situasi seperti ini, membaca kembali pemikiran para pendiri bangsa bukan lagi sekadar bernostalgia dengan sejarah, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk menemukan kembali kompas moral yang mulai kabur.
Salah satu warisan pemikiran yang paling tajam datang dari Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka, atau yang lebih dikenal sebagai Tan Malaka. Dalam mahakaryanya, Gerpolek (Gerilya, Politik, dan Ekonomi) yang ditulis pada tahun 1948, sosok revolusioner ini meninggalkan sebuah catatan fundamental mengenai hakikat politik:
"Politik bukanlah perebutan kekuasaan bagi golongan masing-masing, bukan persaingan untuk menonjolkan diri sendiri, melainkan jalan untuk mengabdi pada kepentingan rakyat." Kalimat singkat tersebut merangkum kritik mendalam terhadap potret politik yang melenceng. Bagi Tan Malaka, politik tidak boleh direduksi menjadi sekadar alat pemuas syahwat kekuasaan faksional (group interest) atau panggung narsisisme para elite. Politik memiliki posisi yang jauh lebih luhur, yakni sebagai instrumen tunggal untuk mewujudkan kesejahteraan dan kedaulatan rakyat seutuhnya
Relevansi gagasan dari tokoh besar kelahiran Sumatera Barat ini seakan tidak pernah pudar, bahkan terasa semakin menyengat di era digital saat ini. Ketika narasi politik kerap didominasi oleh pencitraan personal di media sosial dan polarisasi antargolongan, Gerpolek hadir sebagai pengingat bahwa muara dari segala kebijakan haruslah berdampak langsung pada akar rumput.
Menghidupkan kembali pemikiran Tan Malaka dalam laku politik sehari-hari adalah tantangan besar bagi seluruh elemen bangsa, mulai dari penyelenggara negara, kader partai, hingga masyarakat sipil. Menjadikan politik sebagai "jalan pengabdian" adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa republik yang diperjuangkan dengan darah dan air mata ini tetap berjalan di rel yang benar.